1. NEGERI DONGENG
Bukan perkara mudah mendaki tujuh puncak tertinggi di tujuh pulau/kepulauan besar Indonesia (Seven Summits of Indonesia) sembari membawa seperangkat (tepatnya tujuh buah) kamera, hanya dijalankan oleh tujuh orang termasuk Anggi Frisca selaku sutradara, berusaha memperlihatkan bentangan alam yang bagi sebagian masyarakat termasuk saya, detailnya masih asing. Banyak nilai-nilai, jerih payah, dan tentunya ambisi, terlibat di sana. Ambisi yang sayangnya, tak sepenuhnya mulus tersalurkan menjadi suatu karya. Sebagai film, Negeri Dongeng pun berujung lebih mudah dihargai ketimbang dikagumi.
Dimulai dari Kerinci, berakhir di Cartensz, pengambilan gambar tim Aksa7 berlangsung sekitar 2 tahun (2014-2016) dan pastinya menghadirkan setumpuk rintangan. Bahkan pendakian menuju Puncak Jaya saja rasanya sudah memberi cukup modal untuk sebuah film panjang. Pengumpulan biaya yang konon mencapai 55 juta per orang, persiapan termasuk latihan fisik yang mesti ditempuh, lalu perjalanan berbahaya yang sebagaimana film ini perlihatkan, diisi mendaki permukaan terjal sampai menyeberangi jurang. Ditambah perjalanan menyusuri enam gunung lain, Negeri Dongeng bak upaya menekan paksa materi berjam-jam menjadi 104 menit.
Separuh awal perjalanan berlangsung buru-buru. Beberapa kasus, sebutlah mengenai sampah plastik atau kisah bocah dengan ADHD sekedar numpang lewat. Anggi bagai merasa ada nilai yang layak dituturkan (dan memang benar adanya), namun urung menelusuri lebih lanjut, memunculkan kesan "dibuang sayang". Fokusnya berserakan tanpa arah. Apabila berniat memaparkan nilai kehidupan, seluruh isu hanya sambil lalu. Hendak mengetengahkan sisi survival pun, filmnya lalai mengajak penonton terlibat dalam deretan kesulitan para Aksa7. Tiba-tiba timbul masalah, tiba-tiba pula masalah itu selesai.
Di paruh pertama pun, sebagai dokumenter yang berlokasi di alam, departemen visual belum menyajikan gambar-gambar nikmat, seolah masih kesulitan beradaptasi menangani rintangan sambil membuat film. Hanya tata musik dengan dominasi bunyi atmosferik nan misterius karinding (koreksi kalau saya salah) yang sanggup memikat. Barulah mencapai setengah akhir, baik fokus, dinamika, maupun aspek teknis nampak tertata. Bukan mustahil itu dipengaruhi fakta bahwa perjalanan sempat rehat beberapa bulan, memberi waktu bagi tim melakukan persiapan matang sekaligus evaluasi.
Anggota Aksa7 sendiri punya potensi mengambil hati. Tawa sempat diproduksi nama-nama seperti Teguh Rahmadi dan Rivan Hanggarai lewat tingkah polah keduanya. Bahkan, khusus Teguh, tersimpan bobot lebih ketika ia sempat absen dari pendakian akibat sakit. Namun emosi takkan begitu bergolak karena paruh awal yang semestinya dapat dipakai sebagai perkenalan urung dimanfaatkan. Bahkan saat kita mulai familiar dengan mereka, muncul distraksi baru berupa bintang tamu yang terdiri dari Medina Kamil, Darius Sinathrya, dan Nadine Chandrawinata (juga merupakan associate producer). Kamera lebih betah mengikuti ketiganya daripada para tokoh utama.
2. 5 CM
Film kelima belas garapan sutradara Rizal Mantovani ini adalah sebuah adaptasi dari novel best seller terbitan tahun 2007 karya Donny Dhirgantoro. Novel ini begitu disukai karena dianggap mampu menggabungkan kisah persahabatan yang erat, percintaan yang romantis, bahkan (kabarnya) sanggup membangkitkan rasa nasionalisme pembacanya. Kabar pengadaptasian novel ini ke layar lebar sebenarnya sudah berhembus dari tahun 2010 lalu, tapi baru di akhir 2012 film ini benar-benar dirilis. Sambutan penonton pun luar biasa saat film ini dirilis, dimana 5 cm sanggu menggeser The Raid dari puncak daftar film terlaris di Indonesia dengan pendapatan saat ini melebihi 1,9 juta penonton, meski akhirnya kembali digeser oleh Habibie & Ainun yang melewati angka 2,1 juta penonton. Sebuah pencapaian yang menggemberikan di penghujung 2012 setelah selama beberapa waktu terakhir perfilman kita sempat lesu penonton. Saya makin senang setelah mendengar bahwa 5 cm dan Habibie & Ainun punya kualitas yang cukup membanggakan. Jadi berangkatlah saya menonton dengan dimulai dari 5 cm terlebih dahulu yang pada akhirnya memberikan momen yang di satu sisi cukup mengesankan, namun disisi lain juga mengecewakan.
5 cm berkisah tentang persahabatan lima orang, yaitu Zafran (Herjunot Ali), Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Ian (Igor Saykoji) dan Riani (Raline Shah). Kelimanya sudah bersahabat sedari 10 tahun lamanya dan hampir tiap hari menghabiskan waktu bersama. Kita sendiri akan mengikuti kisahnya dari sudut pandang Zafran yang (sok) puitis, narsis dan menyimpan rasa terhadap Dinda (Pevita Pearce) yang juga adik dari Arial. Persahabatan kelimanya berjalan dengan sangat erat, bahkan terlalu erat hingga mereka sampai tidak mempunyai dunia lain diluar dunia mereka berlima. Persahabatan inilah salah satu hal yang bagi saya mengesankan dalam 5 cm. Karakterisasi tiap tokohnya yang berbeda, persahabatan yang kuat dan menyenangkan untuk diikuti memang sebuah kekuatan utama yang membuat penontonnya teringat akan persahabatan mereka sendiri. Jujur momen persahabatan khususnya di paruh awal film ini menyenangkan dan menyegarkan untuk diikuti. Lewat sebuah perkenalan masing-masing karakternya yang cukup panjang tapi tetap menghibur saya benar-benar dibuat mengenal masing-masing karakternya dengan cukup baik. Selipan komedinya mungkin bukanlah komedi cerdas namun masih sanggup membuat saya tertawa. Selipan kisah percintaan yang ada juga menghibur, overall kisah persahabatan dan paruh pertama filmnya terasa menghibur.
Lalu fillmnya mulai memasuki fase selanjutnya dimana mereka berlima melakukan pendakian ke puncak Semeru setelah tiga bulan lamanya tidak bertemu dan berkomunikasi. Disinilah berbagai momen mengecewakan dan sangat mengganggu. Pada paruh awal bukannya tidak ada momen yang membuat saya risih, tapi setidaknya kisah persahabatan dan alur ceritanya masih terasa menghibur. Sebenarnya saya sudah cukup terganggu dengan beberapa momen komedi cheesy diawal yang untungnya masih bisa membuat saya tertawa. Tapi di paruh berikutnya ini, momen-momen yang digarap secara berlebihan makin banyak saja. Mari lihat berbagai momen disaat salah satu ataupun kelima tokoh utamanya dituntut mengucapkan sedikit monolog dengan bahasa (cukup) puitis, dimana yang ada bukannya terlihat puitis tapi seperti anak-anak SD sedang berpidato untuk pertama kalinya lengkap dengan muka datar dan cara bicara yang tidak kalah menggelikan. Jika banyak orang yang tidak terlalu mempermasalahkan hal ini, saya justru merasa sangat terganggu. Ini adalah sebuah kisah yang berusaha mengangkat sisi dramatis namun dalam sebuah realisme yang (maunya) kuat. Tapi pemakaian momen "tiba-tiba berpuisi" tersebut jelas tidak realistis apalagi dengan penggarapan yang menggelikan. Apalagi momen tersebut tidak hanya sekali dua kali tapi beberapa kali.
Hal yang mengganggu lagi adalah bagaimana rasa nasionalisme dari masing-masing tokohnya muncul secara mendadak, padahal sedari awal kita sama sekali tidak diperlihatkan sisi nasionalisme itu sama sekali. Dengan begitu mendadak mereka menjadi cinta tanah air dan lagi-lagi berpusi tentang nasionalisme di puncak Semeru. Apakah salah memasukkan unsur nasionalisme? Jelas tidak, bahkan saya sangat menyukai hal itu jika digarap dengan benar. Sayangnya dalam sebuah film tidak cukup hanya niat baik, karena perlu eksekusi yang baik pula. Sedangkan nasionalisme dalam 5 cm jelas terasa dipaksakan untuk muncul. Tapi untungnya film ini mampu menangkap keindahan alam di Semeru yang benar-benar cantik luar biasa. Justru dari situlah rasa bangga terhadap bangsa ini terasa tanpa perlu banyak bicara soal nasionalisme lewat bahasa puitis. Cukup tunjukkan begitu megahnya alam Semeru dan saya sanggup dibuat terharu. Film ini juga mempunyai sebuah klimaks yang dieksekusi dengan cukup menegangkan meskipun lagi-lagi berujung pada konklusi yang (tanpa harus membaca novelnya) terasa predictable. Tapi harus diakui klimaks itu menegangkan. Begitu pula jika kita bicara tentang ending yang punya sebuah twist yang manis. Sebuah kejutan yang disimpan dengan rapih layaknya sebuah perasaan yang mampu disimpan rapat-rapat.
Bicara soal akting para pemainnya, saya merasa tidak terlalu buruk meski cukup banyak yang mengganggu saya. Chemistry kelimanya cukup baik dan menyenangkan untuk diikuti. Tidak spesial memang, tapi masih mampu membuat persahabatan mereka berlima disukai penonton. Herjunot Ali sebagai Zafran mampu memberikan hiburan paling besar lewat karakternya yang penuh percaya diri dan sok puitis. Secara keseluruhan ia mampu menciptakan momen komedik yang menghibur. Hal yang kurang lebih sama terlihat pada Igor Saykoji yang memang menjadi bahan ledekan disini. Fedi Nuril yang maunya terlihat berwibawa malah terasa kaku dan tidak nyaman dengan segala dialognya. Tidak nyaman bagi dia dan bagi saya yang mendengar juga tidak nyaman. Denny Sumargo yang untuk kedua kalinya bermain film (yang pertama adalah Hattrick) tidak mengecewakan untuk seorang aktor baru yang tidak punya dasar keaktoran. Tokohnya juga beberapa kali mampu memberikan momen yang memancing tawa. Raline Shah juga tidak terlalu buruk. Terasa sedikit lebih matang dibanding aktor lainnya, tapi tetap tidak bisa dibilang spesial, kecuali jika membicarakan kecantikannya. Hal yang sama berlaku juga bagi Pevita Pearce yang berada di batas antara karakter datar dan bodoh. Tapi anehnya dia juga turut berpuisi dengan "indahnya".
Pada dasarnya 5cm punya dasar certia yang kuat tentang persahabatan dan percintaan khususnya disaat kedua hal tersebut saling berbenturan. Selipan nasionalisme juga bisa menjadi daya tarik tersendiri, walaupun sayangnya sempat mencuri fokus cerita. Sayangnya dengan dasar yang kuat tersebut, eksekusinya terasa terlalu mendapat dramatisasi yang berlebihan dan itu justru menghalangi saya untuk bisa meresapi makna dan kedalaman emosi ceritanya.
3. ROMEO + RINJANI
Tak banyak film bertema kisah percintaan yang berani mengambil set lokasi di pegunungan. Apalagi, gunung yang digunakan sebagai latar cerita adalah Gunung Rinjani, anak gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dengan ketinggian 2.000 m/ dpl.
Namun film berjudul Romeo+Rinjani mampu mematahkan angkernya gunung berapi melalui balutan cerita cinta yang dikemas dengan menarik dan romantis. Film yang disutradarai Fajar Bustomi ini didukung oleh pemandangan alam Gunung Rinjani yang memesona. Sehingga alur ceritanya pun terasa kuat sekali.
Namun film berjudul Romeo+Rinjani mampu mematahkan angkernya gunung berapi melalui balutan cerita cinta yang dikemas dengan menarik dan romantis. Film yang disutradarai Fajar Bustomi ini didukung oleh pemandangan alam Gunung Rinjani yang memesona. Sehingga alur ceritanya pun terasa kuat sekali.
Selain pesona alam Gunung Rinjani, cerita di film ini juga cukup menarik karena menyajikan cerita cinta penuh makna dari tiga tokoh utamanya, yakni Romeo (diperankan Deva Mahenra), Raline (Kimberly Ryder) dan Sharon (Alexa Key).
Romeo diceritakan sebagai seorang fotografer yang senang berpacaran namun sangat menghindari pernikahan. Hingga kemudian Raline, kekasihnya, meminta Romeo menikahinya karena sedang berbadan dua.
Untuk menikahi Raline, Romeo meminta izin untuk menyelesaikan pekerjaannya mengabadikan gambar pemandangan alam di Gunung Rinjani. Sharon kemudian hadir saat Romeo hendak menunaikan tugasnya itu. Petualangan Romeo memasuki babak baru bersama Sharon saat keduanya sama-sama mendaki Rinjani.
Romeo pun diliputi rasa bimbang sekembalinya ia mendaki Gunung Rinjani. Di satu sisi, ia terikat perjanjian dengan Raline yang memaksanya menikah karena sedang hamil. Akan tetapi, ia juga terpesona dengan kecantikan Sharon.
Untuk menikahi Raline, Romeo meminta izin untuk menyelesaikan pekerjaannya mengabadikan gambar pemandangan alam di Gunung Rinjani. Sharon kemudian hadir saat Romeo hendak menunaikan tugasnya itu. Petualangan Romeo memasuki babak baru bersama Sharon saat keduanya sama-sama mendaki Rinjani.
Romeo pun diliputi rasa bimbang sekembalinya ia mendaki Gunung Rinjani. Di satu sisi, ia terikat perjanjian dengan Raline yang memaksanya menikah karena sedang hamil. Akan tetapi, ia juga terpesona dengan kecantikan Sharon.





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/858228/original/038500100_1429624619-Romeo_RInjani-2.jpg)
Komentar
Posting Komentar